Friday, April 29, 2016

Bali: Pergi sendirian dan pertama kali ke Bali? Pas Nyepi? Siapa takut! (1/4)

Berawal dari keingintahuan tentang suasana liburan di Bali yang hanya bisa saya rasakan melalui foto saja sejak masih kecil (kasian banget gak ada yang pernah ngajak, hahaha…), terpikirlah untuk jalan-jalan ke Bali dan berhubung ada seorang teman yang ingin jalan-jalan ke sana juga. Ternyata waktu yang saya dan teman saya pilih berbeda, saat pertengahan bulan Februari 2016 saya memutuskan untuk pergi ke Bali sendirian (nekat) di awal bulan Maret. Saya akan ceritakan perjalanan saya dengan detil dari transportasi, penginapan, dan tips selama di Bali.
Waktu pun semakin dekat dengan bulan Maret, tanpa berpikir banyak saya menghubungi seorang teman yang sedang berada di Bali dan juga meminta pendapat dengan teman-teman Bentara Muda (Sebuah Komunitas Anak Muda yang menyukai Seni dan Budaya yang di bentuk oleh Bentara Budaya Jakarta) yang pernah backpacker-an ke Bali serta rekomendasi penginapan alternatif dari teman tante saya. Jadi sudah banyak opsi yang saya pegang.
Sempat terpintas dipikiran untuk sekalian ke Gili di Lombok dan ternyata pas liat kalender, 9 Maret itu Hari Raya Nyepi! (Ya, saya gak pernah merhatiin kalender belakangan ini). Akhirnya diurungkan niat untuk ke Lombok dan diganti menjadi ke Pulau Nusa Penida. Awal bulan Maret pun saya juga ada keperluan di Surabaya untuk mendokumentasikan keadaan Lumpur Panas Porong, Sidoarjo sekarang. Jadilah saya putuskan untuk pergi ke Bali melalui jalur darat dengan rute Jakarta – Surabaya – Bali. Lalu saya mencari beberapa artikel perjalanan di internet untuk akses transportasi dan kondisi di Pulau Nusa Penida, selain itu saya juga mencari info mengenai Nyepi di Bali (Maklum karena pertama kali ke Bali dan bertepatan dengan Hari Raya Nyepi) agar tidak kebingungan di sana. Bilang sama orang tua mau ke Bali sendiri dan sempet gak percaya saya pergi sendiri karena ini juga pertama kali bepergian sendiri ke tempat yang saya belum pernah sama sekali kunjungi (memang saya anaknya suka melakukan hal yang berbeda dari yang lain), sebelumnya yang jauh seperti ke Kalimantan bersama teman dan Riau karena pekerjaan.
Setelah sudah mendapatkan banyak rekomendasi transportasi dan tempat menginap, barulah H-7 saya memesan tiket Kereta Api secara Online melalui website-nya  dan menghubungi teman saya yang tinggal di Surabaya. Karena tujuan pertama saya harus ke Surabaya jadi saya memilih waktu keberangkatan yang cocok ada dua pilihan (menyesuaikan biaya dan waktu) untuk menuju ke Surabaya Gubeng, yaitu KA Gaya Baru Malam (Jalur KA Selatan) dan KA Jayabaya (Jalur KA Utara). Karena saya pernah merasakan perjalanan dengan KA Gaya Baru Malam dan sampai di Stasiun Surabaya Gubeng kira-kira jam 01.30, saya berpikir merepotkan teman yang menjemput dini hari. Diputuskanlah naik KA Jayabaya keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen (PSE) dan saya pilih hari Kamis, 3 Maret 2016 jam 12.00 sampai Stasiun Surabaya Gubeng sekitar jam 23.23. Tiket kereta sudah dipesan dan pada hari Selasa, 1 Maret 2016 barulah saya datang ke Stasiun Pasar Senen untuk mencetak tiket KA saya pada mesin Cetak Tiket Mandiri (CTM) karena kalau saya lalukan saat hari keberangkatan saya pasti akan penuh dan ngantri panjang. Tiket KA sudah ditangan, malamnya saya masih membaca artikel di internet tentang Pulau Nusa Penida, Transportasi di Bali, Transportasi dari Surabaya ke Bali, Suasana Nyepi di Bali.
H-1 ke Surabaya, menghubungi teman lagi yang sedang bekerja di Bali untuk rekomendasi transportasi dari Surabaya ke Denpasar, Bali. Disarankan oleh teman saya naik travel (Mobil Elf) karena bisa dijemput dari rumah dan diantarkan ke tempat tujuan langsung (sesuai rute yaitu cakupan Denpasar). Ada dua pilihan lagi yaitu Travel Bali Prima dan Travel Ladju Trans (yang direkomendasikan) biayanya pun sama. Dan karena teman saya sudah pernah mencoba Bali Prima, saya pun memilih Ladju Trans. Sudah packing barang yang mau dibawa, lalu saya dan Jabhe (teman dari kecil dan juga personel band Crewsakan) beli oleh-oleh untuk Bony (teman di Surabaya) setelah itu baru istirahat dan keesokan harinya pertualangan pun dimulai. Karena saya kurang mahir membuat rencana jadwal perjalanan atau itinerary jadi saya bagai air mengalir saja dan menggunakan aplikasi Swarm (ekspansi Foursquare) untuk memudahkan saya saat menulis artikel perjalanan ini.

Kamis, 3 Maret 2016 (Perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya)
Berangkat dari rumah jam 11.00 pesan Go-Jek menuju Stasiun Pasar Senen. Setelah sampai langsung ke supermarket beli cemilan untuk di kereta dan saya masuk menuju peron dan kereta mengalami keterlambatan 15 menit. Perjalanan kereta melalui Jalur KA Utara melewati Pekalongan, Semarang, Cepu, dan Bojonegoro. Di kereta perut masih terasa kenyang belum ingin makan lagi sampai petugas kereta yang berjualan makanan 4 kali mondar-mandir, 2 jam sebelum sampai Surabaya perut mulai lapar tapi petugas makanan tidak dating lagi (sial, cemilan abis dan perut kelaparan hanya sisa permen dan air minum). Terpaksa menahan lapar walaupun sudah tau bakal masuk angin nih! Sampai di Stasiun Surabaya Gubeng jam 23.26 sudah ditunggu Bony di luar Stasiun, langsung saya berdua mencari makan malam. Berhentilah di Jajanan Pecel pinggir jalan, pas lagi enak-enaknya menikmati makanan, tiba-tiba perut bergejolak menolak makanan “Jackpot” lah di situ (Ibu penjual pun kaget). Setelah itu bergegaslah menuju rumah Bony di daerah Pagesangan untuk menginap.

Jum’at, 4 Maret 2016 (Mampir ke Lokasi Lumpur Panas Porong)
Jam 01.20 kebelet BAB efek masuk angin, kamar mandi pun berada di belakang gelap dan harus nimba air dari sumur (teman saya Bony pun tidak berani ke kamar mandi jam segitu). Karena saya juga sudah terbisaa dengan hal gaib jadi bisaa saja, selama saya tidak mengganggu. Dipikiran saya hanya memikirkan perut sakit harus BAB hahaha… Selesai BAB, lanjut ngobrol membahas tujuan untuk membeli tiket travel dan melihat Lumpur Lapindo setelah sholat Jum’at. Lanjut istirahat, paginya mencari sarapan di Pasar Pagesangan dan siang harinya jam 13.30 bergegas menuju Sidoarjo diantar Bony dengan motor (Sepeda kalau di Surabaya). Diperjalanan saya menuju Bungurasih terlebih dahulu untuk membeli tiket travel Ladju Trans di kantornya kawasan pertokoan Ramayana Bungurasih tujuan Surabaya – Denpasar keberangkatan sore hari jam 17.00, perkiraan sampai di Denpasar jam 07.00 untuk besok dan minta dijemput di depan Kelurahan Pagesangan. Setelah dapat tiket travel-nya, kami melanjutkan perjalanan ke Porong, Sidoarjo. Sesampainya di Lumpur Lapindo karena sama-sama baru pertama kali ke sini binggung pintu masuknya, akhirnya parkir yang ada tangga (kira-kira 50m tingginya dari rel kereta) menuju tanggul Lumpur Lapindo dikenakan biaya parkir dan biaya masuk perorang (bisnis gelap preman situ), dalam hati selama motor aman tidak apa lah bayar (kalau tidak aman saya bisa berubah jadi lebih dari preman hahaha…). Dari pinggir tanggul pun terlihat pusat semburan Lumpur Panas masih aktif mengeluarkan asap walaupun ada penurunan aktifitas. Saat sedang mendokumentasikan pasti akan ada yang menghampiri kita menawarkan DVD Dokumentasi Lumpur Lapindo saat awal-awal memuntahkan lumpur panasnya dan jasa ojek untuk melihat lebih dekat ke pusat semburan. Saya pun menolak tawaran tersebut walaupun dipaksa terus sama si bapak itu, sambil tetap memotret di pinggiran tanggul. Saat itu tidak banyak pengunjung yang datang dan bisa dihitung jari, sejenak saya beristirahat dengan Bony sambil memandang ke sekitar Lumpur Lapindo. Hal yang saya rasakan itu adalah kesunyian, tiupan angin, dan kenangan kelam. Lalu ada seorang bapak dan ngobrol dengan Bony, lalu bilang “Kenapa sepedanya gak dinaiki aja?”. Kami pun jawab “Tidak tau pak baru pertama.”. Ya, ternyata ada jalan masuk motor ke tanggul tanpa bayar (Hahaha… sudahlah tak apa). Pintu masuk ke tanggul menggunakan motor tidak begitu jauh dari tempat parkir kami (Sepanjang jalan raya Porong, patokannya yaitu 2 rumah 60% hancur pinggir rel kereta dan tanggul setelah rumah tersebut ada pintu kereta kecil dan masuk lewat situ menuju tanggul atas. Dokumentasi selesai, kami pun bergegas kembali ke rumah. Diperjalanan pun gerimis, Bony bilang “Mau lanjut kah ki?” dan sambil liat awan dan arah angin, saya jawab “Lanjut Bon!”. Benar saja arah angin menuju Sidoarjo dan Surabaya ternyata sudah lebih dulu hujan, kami pun tidak kehujanan sampai di rumah Bony kira-kira jam 16.00 (Huahahaha… Seneng gak jelas). Lalu saya dapat kabar mengenai tenggelam di Selat Bali karena kelebihan muatan (Wow, dag dig dug… Berdoa saja semoga besok lancar). Malamnya pun kami bercerita dan Bony pun juga tidak menyangka saya sendirian ke Bali (muka saya mungkin tidak cocok jalan sendirian hahaha…).

Lanjut ke Bagian 2 > DI SINI

0 comments:

Post a Comment

Silakan berikan komentar atau pertanyaan anda tentang artikel ini.